Puncak Outbound | Paket Outbound | Camping Murah Puncak | Info Outbound Puncak | Paket Outbound | Harga Outbound Puncak| Lokasi Outbound Murah di Puncak.
Camp Outbound
Rabu, 17 Februari 2016
HIGHLAND CAMP PUNCAK MEGAMENDUNG UNTUK OUTBOUND, GATHERING, CAMPING, OUTING DAN ADVENTURE
Puncak Outbound | Paket Outbound | Camping Murah Puncak | Info Outbound Puncak | Paket Outbound | Harga Outbound Puncak| Lokasi Outbound Murah di Puncak.
| Kegiatan OutBound di Highland puncak Bogor |
Minggu, 10 November 2013
Experiential learning dalam training outbound
Metode “experiential learning” merupakan proses pelatihan yang diharapkan dapat menciptakan pelatihan yang lebih bermakna. Melalui model ini, proses pelatihan dijadikan sebagai suatu pengalaman. Hasil dari proses pelatihan experiential learning tidak hanya menekankan pada aspek kognitif saja, juga tidak seperti behavior yang menghilangkan peran pengalaman subjektif. Pengetahuan yang tercipta dari model ini merupakan perpaduan antara memahami dan mentransformasi pengalaman.
Pepatah mengatakan bahwa ”pengalaman adalah guru yang paling baik”. Maka hal yang sama telah dikemukakan oleh Confusius beberapa abad lalu ”what i hear, i forget, what I hear and see, I remember a little, what I hear, see and ask questions about or discus wuth some one else, I begin to understand, what I hear, see, discus, and I do, I acquire knowledge and skill, what I teach to another, I master”. Jika pernyataan Confusius tersebut dikembangkan secara sederhana, maka akan didapat suatu cara belajar berupa cara belajar dengan cara mendengar akan lupa, dengan cara mendengarkan dan melihat akan ingat sedikit, dengan cara mendengar, melihat dan mendiskusikan dengan siswa lain akan paham, dengan cara mendengar, melihat, diskusi dan melakukan akan memperoleh pengetahuan dan keterampilan, dan cara untuk menguasai pelajaran yang terbaik adalah dengan mengerjakan. Dengan mengalami materi belajar secara langsung.
Seperti halnya proses pelatihan kontekstual yang menghubungkan dan melibatkan peserta dengan dunia nyata, model ini pun lebih mengedepankan model connented knowing (menghubungkan antara pengetahuan dengan dunia nyata), dengan demikian pelatihan dianggap sebagai bagian integral dari sebuah kehidupan.
Konsep Model Experiential Learning
Experiental learning theory (ELT), yang kemudian menjadi dasar model pelatihan experiential learning , dikembangkan oleh David Kolb sekitar awal 1980-an. Model ini menekankan pada sebuah model pelatihan yang holiostik. Dalam experiential learning, pengalaman mempunyai peran sentral. Penekanan inilah yang membedakan ELT dari teori-teori belajar lainnya. Istilah “experientrial” di sini untuk membedakan anatara teori belajar kognitif yang cenderung menekankan kognisi lebih daripada afektif. Dan teori belajar behavior yang menghilangkan peran pengalaman subjektif dalam proses belajar (Kolb dalam Baharudin dan Esa, 2007: 165).
Model Experiential Learning adalah suatu model proses belajar mengajar yang mengaktifkan peserta untuk membangun pengetahuan dan keterampilan melalui pengalamannya secara langsung. Dalam hal ini, Experiential Learning menggunakan pengalaman sebagai katalisator untuk menolong pembelajar mengembangkan kapasitas dan kemampuannya dalam proses pelatihan .
Experiential learning dapat didefinisikan sebagai tindakan untuk mencapai sesuatu berdasarkan pengalaman yang secara terus menerus mengalami perubahan guna meningkatkan keefektifan dari hasil belajar itu sendiri.
Experiential learning menekankan pada keinginan kuat dari dalam diri untuk berhasil. Motivasi ini didasarkan pula pada tujuan yang ingin dicapai. Keinginan untuk berhasil tersebut dapat meningkatakan tanggung jawab terhadap perilaku .
Experiential learning adalah suatu proses dimana kita mengkonstuksi atau menyusun pengetahuan keterampilan dan nilai dari pengalaman langsung. Prosedur pelatihan dalam experiential learning terdiri dari 4 tahapan, yaitu; 1) tahapan pengalaman nyata, 2) tahap observasi refleksi, 3) tahap konseptualisasi, dan 4) tahap implementasi.
Proses belajar dimulai dari pengalaman konkret yang dialami seseorang. Pengalaman tersebut kemudian direfleksikan secara individu. Dalam proses refleksi seseorang akan berusaha memahami apa yang terjadi atau apa yang dialaminya. Refleksi ini menjadi dasar konseptualisasi atau proses pemahaman prinsip-prinsip yang mendasari pengalaman yang dialami serta prakiraan kemungkinan aplikasinya dalam situasi atau konteks yang lain (baru). Proses implementasi merupakan situasi atau konteks yang memungkinkan penerapan konsep yang sudah dikuasai.
Kemungkinan belajar melalui pengalaman-pengalaman nyata kemudian direfleksikan dengan mengkaji ulang apa yang telah dilakukannya tersebut. Pengalaman yang telah direfleksikan kemudian diatur kembali sehingga membentuk pengertian-pengertian baru atau konsep-konsep abstrak yang akan menjadi petunjuk bagi terciptanya pengalaman atau perilaku-perilaku baru. Proses pengalaman dan refleksi dikategorikan sebagai proses penemuan (finding out), sedangkan proses konseptualisasi dan implementasi dikategorikan dalam proses penerapan (taking action).
Kamis, 17 Oktober 2013
Kecerdasan ekologi
"Harmonisasi alam menjadi prioritas tanpa harus mengurangi daya dukung dan daya lenting lingkungan terhadap hak dasar tiap makhluk untuk hidup, berkembang dan melakukan explorasi hidup"Hubungan timbal balik antara manusia dengan makhluk hidup lainnya dan unsur tak hidup telah menyebabkan manusia dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, namun aktivitas yang dilakukan manusia terhadap lingkungan menyebabkan pula permasalahan lingkungan hidup. Permasalahan tersebut pada hakikatnya merupakan permasalahan ekologi.
Ekologi adalah hubungan mahluk hidup, khususnya manusia terhadap lingkungan hidupnya, ilmu tentang hubungan timbal balik antara mahluk hidup dengan lingkungan hidupnya disebut ekologi, Istilah ekologi pertama kali diperkenalkan oleh Enerst Haeckel, seorang ahli biologi kebangsaan Jerman, ekologi berasal dari bahasa Yunani yaitu Oikos yang berarti rumah dan logos yang berarti ilmu atau telaah, karena itu ekologi berarti ilmu tentang rumah atau tempat tinggal makhluk hidup, dengan demikian ekologi biasa artikan sebagai ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara mahluk hidup dengan lingkungannya, dalam ekologi transaksi yang di gunakan adalah Arus materi, energi, dan informasi dalam suatu komunitas atau beberapa komunitas materi, energi, dan informasi.
Dalam konsep ekologi “ Pengelolaan lingkungan hidup bersifat Antroposentris “ artinya perhatian utama dihubungkan dengan kepentingan manusia, Kelangsungan hidup suatu jenis tumbuhan atau hewan selalu dikaitkan dengan peranan tumbuhan atau hewan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia baik material seperti bahan makanan dan non-material seperti keindahan dan nilai ilmiah, dengan demikian kelangsungan hidup manusia dalam lingkungan hidup sangat ditentukan oleh tumbuhan, hewan, dan unsur tak hidup.
Menurut Urie Bronfrenbrenner teori ecologi adalah suatu pandangan sosiokultural tentang perkembangan lima sistem lingkungan mulai dari masukan interaksi langsung dengan agen-agen sosial (social agents) hingga masukan kebudayaan yang berbasis luas, kelima pembagian tersebut adalah : 1. Mikrosistem merupakan setting dimana individu hidup; 2. Lingkungan mesosistem yang terdiri dari beberapa Mikrosistem; 3. Eksosistem; 4. Makrosistem meliputi kebudayaan dimana individu hidup. ( Kebudayaan mengacu pada pola perilaku dan keyakinan ) 5. Kronosistem meliputi peristiwa-peristiwa lingkungan dan transisi sepanjang rangkaian kehidupan dan keadaan-keadaan sosiohistoris.
Karena perhatian utama dalam tingkatan organisasi mahluk hidup dan lingkungan adalah “ Manusia ”, maka manusia harus memiliki kecerdasan dalam pengelolaan nya, material dan imaterial sebagai factor utama pendukung kelangsungan hidup manusia selayaknya dikelola dengan memperhatikan daya dukung dan daya lenting lingkungan sehingga terjadinya harmonisasi element hidup.
Seorang peneliti dari universitas Harvard “ Howard Gardner “, membagi kecerdasan dalam delapan macam kecerdasan atau inteligensia diantaranya adalah Kecerdasan Naturalis (Naturalist Intelligence), kecerdasan naturalis adalah suatu kekuatan kecerdasan dengan pemahaman sederhana tentang lingkungan dan memahami hakikat alam.
Lain hal hanya dengan Kecerdasan ekologis ( dalam hal ini Kecerdasan dipahami sebagai suatu kemampuan untuk memahami informasi yang membentuk pengetahuan, kepekaan dan kesadaran ) dimana kepekaan dan perilaku manusia terhadap hakikat alam yang di tuangkan pada management hubungan manusia dan aktivitas social hidup nya berdasar pada nilai-nilai harmonisasi alam itu sendiri. Harmonisasi alam menjadi prioritas tanpa harus mengurangi daya dukung dan daya lenting lingkungan terhadap hak dasar tiap makhluk untuk hidup, berkembang dan melakukan explorasi hidup.
Dalam hal ini, manusia yang berada pada tingkatan organisasi mahluk yang tertinggi yang harus memiliki kekuatan karakter sebagai individu dan memiliki kepribadian yang luwes dan adaptif sebagai mahluk sosial terhadap aktivitas social hidupnya, alam yang menyediakan tempat belajar dan materi pembelajaran harus dapat menumbuh kembangkan pemahaman akan kesadaran seorang individu untuk berperan aktif dalam aktivitas social hidupnya, yang pada akhirnya nilai – nilai harmonisasi tercipta sacara utuh tanpa mengurangi potensi pemenuhan kebutuhan untuk mempertahankan fungsi lingkungan dan daya dukung nya.
Tahukah anda tentang outbound........?
Outbound atau outbound manajemen training adalah suatu program pelatihan manajemen di alam terbuka yang berdasarkan pada prinsip experiental learning yang disajikan dalam bentuk permainan, simulasi, diskusi dan petualangan sebagai media penyampaian materi (Ancok, 2002:35). Penerapan ilmu manajemen berkenaan dengan bagaimana mengatur diri sendiri, dan kelompok orang lain yang didalamnya disajikan berbagai kegiatan permainan untuk membentuk kepercayaan diri (self confidence), membentuk kelompok (team building), jiwa kepemimpinan (leadership) dan sebagainya.
Outbound adalah sebuah metode pembelajaran untuk mencari pengalaman dengan menggunakan alam terbuka (outdoor education) sebagai medianya (Hahn, 2004:1). Selain itu, outbound memegang peranan penting bagi orang yang tidak pernah menyerah, yang mencoba dan mencoba lagi, dan yang mencoba terus meraih untuk batas waktu yang tidak diketahui (Kusumowidagdo, 2002:1). Outbound adalah suatu proses pendidikan yang mengabdi pada prinsip mengembangkan keyakinan diri individu, perhatian pada orang lain, dan kesadaran diri dalam rencana yang luas ketika dihadapkan dengan tantangan, berbagi pengalaman bersama yang menyertakan petualangan dan jasa layanan (Suhendra, 2002:9). Dari beberapa pendapat tersebut, outbound mempunyai tujuan luas diantaranya adalah membangun manusia yang memiliki ketahanan mental yang kokoh, pantang menyerah, selalu ingin terus mencoba, menghargai orang lain dan sebagainya
Dalam filosofi outbound seperti dikatakan Karlisch (1979:9) bahwa: “untuk menghasilkan orang-orang muda yang mampu mempengaruhi bahwa apa yang mereka kerjakan adalah benar, di samping kesukaran, bahaya, keraguraguan, olok-olok, atau keadaan emosi”. Dengan demikian, outbound merupakan upaya untuk membentuk generasi muda agar setiap tindakan yang mereka lakukan dalam kondisi apapun selalu benar. Dalam keadaan bahaya, kesulitan, ragu-ragu, diolok-olok, atau dalam keadaan emosi mereka tidak stabil, tetapi mereka dituntut agar selalu bertindak dan mengambil keputusan dengan benar. (Komarudin, S.Pd. M.Pd.)
Rabu, 16 Oktober 2013
Outbound dan Percaya Diri
Peserta outbound dilatih untuk lebih berani mengambil segala kemungkinan dengan memperhitungkan resiko tertinggi yang akan dihadapinya. Peserta dilatih untuk melakukan sesuatu dengan penuh perhitungan dan memikirkan resiko-resiko yang dihadapi. Peserta dalam kegiatan tersebut, akan merasa cemas ketika melihat tali yang membentang diantara dua pohon yang tinggi, lingkungan yang asing dan sebagainya. Namun peserta harus mencoba untuk melakukan dan memecahkan masalah yang dihadapinya. Peserta harus memiliki prinsip bahwa dia juga bisa melakukannya sebagaimana orang lain yang bisa melakukannya. Selain itu, peserta outbound harus berusaha melawan kekhawatiran dan perasaan takut yang dihadapi dan dirasakannya.
Ketika seseorang terus menghindar dan menutup diri dari permasalahan yang menyebabkan dirinya takut dan cemas, maka perasaan kurang percaya diri yang dirasakan itu akan menghambat peserta dan tidak berani menghadapi tantangan. Salah satu gejala psikis yang timbul akibat kecemasan adalah hilangnya rasa percaya terhadap kemampuan diri yang dimilikinya. Salah satu tujuan dari kegiatan outbound, adalah membangun rasa percaya diri. Jeffers (2004:30) mengatakan: “membina kepercayaan dalam diri adalah mengusir perasaan cemas dan teruskan pekerjaan yang membuat anda cemas”. Bagaimanapun juga dalam outbound membutuhkan percaya diri dan keberanian yang penuh dan tantangan yang harus dihadapi. Berani mengambil resiko dengan penuh perhitungan merupakan salah satu yang dipelajari dalam kegiatan outbound. Jajat (2006:32) mengatakan bahwa: “Orang yang memiliki kepercayaan diri tinggi, berjiwa pemimpin, pencemas, dan trauma akan kejadian di masa lampau, orang yang tidak bisa mengendalikan emosinya dan sebagainya biasanya akan terlihat ketika dihadapkan dalam kegiatan outbound. Kegiatan outbound akan mencoba mengurangi ketakutan dan kekhawatiran yang timbul akibat dari lingkungan dan rekan-rekan yang baru saja dikenalnya.”
Perasaan kurang percaya diri, cemas, takut, khawatir dan lain sebagainya harus diatasi, orang yang takut ketinggian, dalam kegiatan outbound dituntut untuk berani mengalahkan perasaan tersebut. Orang yang takut serta khawatir, maka dirinya tidak akan mampu melakukan sesuatu yang mungkin masih baru. Dengan demikian, dalam kegiatan outbound orang dituntut untuk mencoba melakukan dan menghilangkan perasaan takut yang dialaminya. Beberapa pendapat mengatakan bahwa belajar di alam terbuka lebih efektif, karena akan merasakan langsung apa yang dipelajarinya. Alam memberikan pengalaman nyata dan dapat dirasakan secara langsung. Oleh sebab itu, outbound diharapkan dapat mengukur langsung kepercayaan diri seseorang, karena dalam outbound orang dituntut untuk meningkatkan kepercayaan dirinya untuk melakukan berbagai tugas yang harus dilakukannya. (Komarudin, S.Pd. M.Pd.)
Selasa, 15 Oktober 2013
Outbound : sebuah metode
Dalam kenyataannya tidak semua orang atau atlet memiliki percaya diri, terkadang minder dengan apa yang dimilikinya. Padahal untuk melakukan kegiatan termasuk kegiatan yang menantang harus mempunyai percaya diri supaya tujuan yang diharapkan dapat terwujud. Tingkat percaya diri yang tinggi sebenarnya hanya merujuk pada adanya beberapa aspek dari kehidupan individu, di mana ia merasa memiliki kompetensi, mampu dan percaya bahwa ia bisa karena didukung oleh pengalaman, potensi aktual, prestasi serta harapan yang realistik terhadap dirinya sendiri.
Untuk menumbuhkan percaya diri, harus dimulai dari dalam dirinya sendiri, hal ini sangat penting untuk mengatasi rasa kurang percaya diri yang ada dalam dirinya. Rasa percaya diri yang ada dalam diri seseorang atau atlet jangan sampai berlebihan, karena tidak akan menggambarkan kondisi kejiwaan yang sehat. Keadaan kondisi kejiwaan yang sehat selalu berorientasi pada kemampuan yang sebenarnya.
Outbound adalah sebuah metode pelatihan, terapi atau pembelajaran yang menggunakan alam sebagai medianya. Outbound merupakan program kegiatan dengan metode bermain sambil belajar yang didalamnya terdapat unsur olahraga. Dalam pelatihan outbond selalu berdasarkan pada prinsip “experiental learning” yang disajikan dalam bentuk permainan, simulasi, diskusi, dan petualangan sebagai media penyampaian materi. Dalam aktivitas tersebut, peserta langsung terlibat pada aktivitas belajar sambil bekerja dan segera mendapat umpan balik tentang dampak dari kegiatan yang dilakukannya. Salah satu tujuan dari outbound adalah untuk meningkatkan kinerja seseorang khususnya yang berkaitan dengan mental dan perilaku seperti meningkatkan rasa percaya diri, berkomunikasi, berkerja sama, mengembangkan kretifitas, dan kemampuan mengatasi tekanan dan beragam kesulitan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Rasa percaya diri dapat membuat atlet mampu membebaskan dirinya dari tekanantekanan (stres) yang dihadapi dalam aktifitas olahraga (Tandio, 1997:47).
Metode untuk mengatasi stress yang dialami seseorang sangat beranekaragam, seperti relaksasi, terapi musik, istirahat yang cukup, memelihara hubunganyang sehat, rekreasi dan berolahraga diantaranya adalah outbound (Yates, 1979:5). Dengan demikian, olahraga merupakan salah satu bentuk aktivitas yang bisa melepas rasa stres yang kerapkali dialami dalam kehidupan sehari-hari, oleh sebab itu olahraga akan memberikan suasana rileks pada tubuh yang melakukan aktivitas tersebut, ( Komarudin, S.Pd. M.Pd. )
Langganan:
Komentar (Atom)
