Kamis, 17 Oktober 2013

Kecerdasan ekologi


www.highlandindonesia.co.id"Harmonisasi alam menjadi prioritas tanpa harus mengurangi daya dukung dan daya lenting lingkungan terhadap hak dasar tiap makhluk untuk hidup, berkembang dan melakukan explorasi hidup"

Hubungan timbal balik antara manusia dengan makhluk hidup lainnya dan unsur tak hidup telah menyebabkan manusia dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, namun aktivitas yang dilakukan manusia terhadap lingkungan menyebabkan pula permasalahan lingkungan hidup. Permasalahan tersebut pada hakikatnya merupakan permasalahan ekologi.
Ekologi adalah hubungan mahluk hidup, khususnya manusia terhadap lingkungan hidupnya, ilmu tentang hubungan timbal balik antara mahluk hidup dengan lingkungan hidupnya disebut ekologi, Istilah ekologi pertama kali diperkenalkan oleh Enerst Haeckel, seorang ahli biologi kebangsaan Jerman, ekologi berasal dari bahasa Yunani yaitu Oikos yang berarti rumah dan logos yang berarti ilmu atau telaah, karena itu ekologi berarti ilmu tentang rumah atau tempat tinggal makhluk hidup, dengan demikian ekologi biasa artikan sebagai ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara mahluk hidup dengan lingkungannya, dalam ekologi transaksi yang di gunakan adalah Arus materi, energi, dan informasi dalam suatu komunitas atau beberapa komunitas materi, energi, dan informasi.

Dalam konsep ekologi “ Pengelolaan lingkungan hidup bersifat Antroposentris “ artinya perhatian utama dihubungkan dengan kepentingan manusia, Kelangsungan hidup suatu jenis tumbuhan atau hewan selalu dikaitkan dengan peranan tumbuhan atau hewan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia baik material seperti bahan makanan dan non-material seperti keindahan dan nilai ilmiah, dengan demikian kelangsungan hidup manusia dalam lingkungan hidup sangat ditentukan oleh tumbuhan, hewan, dan unsur tak hidup.

Menurut Urie Bronfrenbrenner teori ecologi adalah suatu pandangan sosiokultural tentang perkembangan lima sistem lingkungan mulai dari masukan interaksi langsung dengan agen-agen sosial (social agents) hingga masukan kebudayaan yang berbasis luas, kelima pembagian tersebut adalah : 1. Mikrosistem merupakan setting dimana individu hidup; 2. Lingkungan mesosistem yang terdiri dari beberapa Mikrosistem; 3. Eksosistem; 4. Makrosistem meliputi kebudayaan dimana individu hidup. ( Kebudayaan mengacu pada pola perilaku dan keyakinan ) 5. Kronosistem meliputi peristiwa-peristiwa lingkungan dan transisi sepanjang rangkaian kehidupan dan keadaan-keadaan sosiohistoris.

Karena perhatian utama dalam tingkatan organisasi mahluk hidup dan lingkungan adalah “ Manusia ”, maka manusia harus memiliki kecerdasan dalam pengelolaan nya, material dan imaterial sebagai factor utama pendukung kelangsungan hidup manusia selayaknya dikelola dengan memperhatikan daya dukung dan daya lenting lingkungan sehingga terjadinya harmonisasi element hidup.

Seorang peneliti dari universitas Harvard “ Howard Gardner “, membagi kecerdasan dalam delapan macam kecerdasan atau inteligensia diantaranya adalah Kecerdasan Naturalis (Naturalist Intelligence), kecerdasan naturalis adalah suatu kekuatan kecerdasan dengan pemahaman sederhana tentang lingkungan dan memahami hakikat alam.

Lain hal hanya dengan Kecerdasan ekologis ( dalam hal ini Kecerdasan dipahami sebagai suatu kemampuan untuk memahami informasi yang membentuk pengetahuan, kepekaan dan kesadaran ) dimana kepekaan dan perilaku manusia terhadap hakikat alam yang di tuangkan pada management hubungan manusia dan aktivitas social hidup nya berdasar pada nilai-nilai harmonisasi alam itu sendiri. Harmonisasi alam menjadi prioritas tanpa harus mengurangi daya dukung dan daya lenting lingkungan terhadap hak dasar tiap makhluk untuk hidup, berkembang dan melakukan explorasi hidup.

Dalam hal ini, manusia yang berada pada tingkatan organisasi mahluk yang tertinggi yang harus memiliki kekuatan karakter sebagai individu dan memiliki kepribadian yang luwes dan adaptif sebagai mahluk sosial terhadap aktivitas social hidupnya, alam yang menyediakan tempat belajar dan materi pembelajaran harus dapat menumbuh kembangkan pemahaman akan kesadaran seorang individu untuk berperan aktif dalam aktivitas social hidupnya, yang pada akhirnya nilai – nilai harmonisasi tercipta sacara utuh tanpa mengurangi potensi pemenuhan kebutuhan untuk mempertahankan fungsi lingkungan dan daya dukung nya.

Tahukah anda tentang outbound........?


www.highlandindonesia.co.id | tahukah and tentang outboundOutbound berasal dari kata outward bound, yaitu dari kata ajakan “lets go to outward” yang sekarang menjadi sebuah yayasan di Inggris yang bergerak dalam pendidikan di luar ruangan (outdoor education) dengan nama Outward Bound International. Outward bound di Indonesia lebih dikenal dengan outbound manajemen trainning (OMT) yang memadukan ilmu manajemen sebagai metodepelatihan dengan kegiatan di alam terbuka.
Outbound atau outbound manajemen training adalah suatu program pelatihan manajemen di alam terbuka yang berdasarkan pada prinsip experiental learning yang disajikan dalam bentuk permainan, simulasi, diskusi dan petualangan sebagai media penyampaian materi (Ancok, 2002:35). Penerapan ilmu manajemen berkenaan dengan bagaimana mengatur diri sendiri, dan kelompok orang lain yang didalamnya disajikan berbagai kegiatan permainan untuk membentuk kepercayaan diri (self confidence), membentuk kelompok (team building), jiwa kepemimpinan (leadership) dan sebagainya.

Outbound adalah sebuah metode pembelajaran untuk mencari pengalaman dengan menggunakan alam terbuka (outdoor education) sebagai medianya (Hahn, 2004:1). Selain itu, outbound memegang peranan penting bagi orang yang tidak pernah menyerah, yang mencoba dan mencoba lagi, dan yang mencoba terus meraih untuk batas waktu yang tidak diketahui (Kusumowidagdo, 2002:1). Outbound adalah suatu proses pendidikan yang mengabdi pada prinsip mengembangkan keyakinan diri individu, perhatian pada orang lain, dan kesadaran diri dalam rencana yang luas ketika dihadapkan dengan tantangan, berbagi pengalaman bersama yang menyertakan petualangan dan jasa layanan (Suhendra, 2002:9). Dari beberapa pendapat tersebut, outbound mempunyai tujuan luas diantaranya adalah membangun manusia yang memiliki ketahanan mental yang kokoh, pantang menyerah, selalu ingin terus mencoba, menghargai orang lain dan sebagainya

Dalam filosofi outbound seperti dikatakan Karlisch (1979:9) bahwa: “untuk menghasilkan orang-orang muda yang mampu mempengaruhi bahwa apa yang mereka kerjakan adalah benar, di samping kesukaran, bahaya, keraguraguan, olok-olok, atau keadaan emosi”. Dengan demikian, outbound merupakan upaya untuk membentuk generasi muda agar setiap tindakan yang mereka lakukan dalam kondisi apapun selalu benar. Dalam keadaan bahaya, kesulitan, ragu-ragu, diolok-olok, atau dalam keadaan emosi mereka tidak stabil, tetapi mereka dituntut agar selalu bertindak dan mengambil keputusan dengan benar. (Komarudin, S.Pd. M.Pd.)

Rabu, 16 Oktober 2013

Outbound dan Percaya Diri


www.highlandindonesia.co.id | outbound dan percaya diriAktivitas outbound, disadari atau tidak, dapat membina dan meningkatkan rasa percaya diri (self confidence) bagi yang melakukannya (Hamidi, 2007:45). Selain itu, outbound sebagai metode terapi yang dilakukan di alam bebas (diluar ruangan) yang didalamnya dilakukan permainan-permainan olahraga yang bersifat menantang, dan membutuhkan semangat juang tinggi, rasa percaya diri dan membutuhkan pemikiran yang tidak sedikit tetapi sangat menyenangkan.
Peserta outbound dilatih untuk lebih berani mengambil segala kemungkinan dengan memperhitungkan resiko tertinggi yang akan dihadapinya. Peserta dilatih untuk melakukan sesuatu dengan penuh perhitungan dan memikirkan resiko-resiko yang dihadapi. Peserta dalam kegiatan tersebut, akan merasa cemas ketika melihat tali yang membentang diantara dua pohon yang tinggi, lingkungan yang asing dan sebagainya. Namun peserta harus mencoba untuk melakukan dan memecahkan masalah yang dihadapinya. Peserta harus memiliki prinsip bahwa dia juga bisa melakukannya sebagaimana orang lain yang bisa melakukannya. Selain itu, peserta outbound harus berusaha melawan kekhawatiran dan perasaan takut yang dihadapi dan dirasakannya.

Ketika seseorang terus menghindar dan menutup diri dari permasalahan yang menyebabkan dirinya takut dan cemas, maka perasaan kurang percaya diri yang dirasakan itu akan menghambat peserta dan tidak berani menghadapi tantangan. Salah satu gejala psikis yang timbul akibat kecemasan adalah hilangnya rasa percaya terhadap kemampuan diri yang dimilikinya. Salah satu tujuan dari kegiatan outbound, adalah membangun rasa percaya diri. Jeffers (2004:30) mengatakan: “membina kepercayaan dalam diri adalah mengusir perasaan cemas dan teruskan pekerjaan yang membuat anda cemas”. Bagaimanapun juga dalam outbound membutuhkan percaya diri dan keberanian yang penuh dan tantangan yang harus dihadapi. Berani mengambil resiko dengan penuh perhitungan merupakan salah satu yang dipelajari dalam kegiatan outbound. Jajat (2006:32) mengatakan bahwa: “Orang yang memiliki kepercayaan diri tinggi, berjiwa pemimpin, pencemas, dan trauma akan kejadian di masa lampau, orang yang tidak bisa mengendalikan emosinya dan sebagainya biasanya akan terlihat ketika dihadapkan dalam kegiatan outbound. Kegiatan outbound akan mencoba mengurangi ketakutan dan kekhawatiran yang timbul akibat dari lingkungan dan rekan-rekan yang baru saja dikenalnya.

Perasaan kurang percaya diri, cemas, takut, khawatir dan lain sebagainya harus diatasi, orang yang takut ketinggian, dalam kegiatan outbound dituntut untuk berani mengalahkan perasaan tersebut. Orang yang takut serta khawatir, maka dirinya tidak akan mampu melakukan sesuatu yang mungkin masih baru. Dengan demikian, dalam kegiatan outbound orang dituntut untuk mencoba melakukan dan menghilangkan perasaan takut yang dialaminya. Beberapa pendapat mengatakan bahwa belajar di alam terbuka lebih efektif, karena akan merasakan langsung apa yang dipelajarinya. Alam memberikan pengalaman nyata dan dapat dirasakan secara langsung. Oleh sebab itu, outbound diharapkan dapat mengukur langsung kepercayaan diri seseorang, karena dalam outbound orang dituntut untuk meningkatkan kepercayaan dirinya untuk melakukan berbagai tugas yang harus dilakukannya. (Komarudin, S.Pd. M.Pd.)

Selasa, 15 Oktober 2013

Outbound : sebuah metode


www.highlandindonesia.co.id | sebuah metode outboundPercaya diri (self confidence) merupakan modal utama seseorang untuk mencapai sukses. Orang yang mempunyai kepercayaan pada diri sendiri berarti orang tersebut sanggup, mampu, dan meyakini dirinya bahwa ia dapat mencapai prestasi yang diinginkannya. Percaya diri merupakan modal untuk dapat maju, karena pencapaian prestasi maksimal dan pemecahan rekor atlet harus dimulai dengan percaya bahwa ia dapat dan sanggup melampaui prestasi yang pernah dicapainya (Gunarsa, 1989:51). Perasaan kurang percaya diri merupakan tumpuan yang lemah untuk mencapai prestasi maksimal, kurang percaya diri berarti meragukan kemampuan diri, dan merupakan bibit ketegangan dalam menghadapi pertandingan atau menghadapi lawan yang seimbang, dan ketegangan tersebut jelas merupakan bibit kekalahan dalam suatu pertandingan.

Dalam kenyataannya tidak semua orang atau atlet memiliki percaya diri, terkadang minder dengan apa yang dimilikinya. Padahal untuk melakukan kegiatan termasuk kegiatan yang menantang harus mempunyai percaya diri supaya tujuan yang diharapkan dapat terwujud. Tingkat percaya diri yang tinggi sebenarnya hanya merujuk pada adanya beberapa aspek dari kehidupan individu, di mana ia merasa memiliki kompetensi, mampu dan percaya bahwa ia bisa karena didukung oleh pengalaman, potensi aktual, prestasi serta harapan yang realistik terhadap dirinya sendiri. 

Untuk menumbuhkan percaya diri, harus dimulai dari dalam dirinya sendiri, hal ini sangat penting untuk mengatasi rasa kurang percaya diri yang ada dalam dirinya. Rasa percaya diri yang ada dalam diri seseorang atau atlet jangan sampai berlebihan, karena tidak akan menggambarkan kondisi kejiwaan yang sehat. Keadaan kondisi kejiwaan yang sehat selalu berorientasi pada kemampuan yang sebenarnya. 

Outbound adalah sebuah metode pelatihan, terapi atau pembelajaran yang menggunakan alam sebagai medianya. Outbound merupakan program kegiatan dengan metode bermain sambil belajar yang didalamnya terdapat unsur olahraga. Dalam pelatihan outbond selalu berdasarkan pada prinsip “experiental learning” yang disajikan dalam bentuk permainan, simulasi, diskusi, dan petualangan sebagai media penyampaian materi. Dalam aktivitas tersebut, peserta langsung terlibat pada aktivitas belajar sambil bekerja dan segera mendapat umpan balik tentang dampak dari kegiatan yang dilakukannya. Salah satu tujuan dari outbound adalah untuk meningkatkan kinerja seseorang khususnya yang berkaitan dengan mental dan perilaku seperti meningkatkan rasa percaya diri, berkomunikasi, berkerja sama, mengembangkan kretifitas, dan kemampuan mengatasi tekanan dan beragam kesulitan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Rasa percaya diri dapat membuat atlet mampu membebaskan dirinya dari tekanantekanan (stres) yang dihadapi dalam aktifitas olahraga (Tandio, 1997:47). 

Metode untuk mengatasi stress yang dialami seseorang sangat beranekaragam, seperti relaksasi, terapi musik, istirahat yang cukup, memelihara hubunganyang sehat, rekreasi dan berolahraga diantaranya adalah outbound (Yates, 1979:5). Dengan demikian, olahraga merupakan salah satu bentuk aktivitas yang bisa melepas rasa stres yang kerapkali dialami dalam kehidupan sehari-hari, oleh sebab itu olahraga akan memberikan suasana rileks pada tubuh yang melakukan aktivitas tersebut, ( Komarudin, S.Pd. M.Pd. )