Minggu, 10 November 2013

Experiential learning dalam training outbound



Metode “experiential learning” merupakan proses pelatihan yang diharapkan dapat menciptakan pelatihan yang lebih bermakna. Melalui model  ini, proses pelatihan  dijadikan sebagai suatu pengalaman. Hasil dari proses pelatihan  experiential learning tidak hanya menekankan pada aspek kognitif saja, juga tidak seperti behavior yang menghilangkan peran pengalaman subjektif.  Pengetahuan yang tercipta dari model ini merupakan perpaduan antara memahami dan mentransformasi pengalaman.

Pepatah mengatakan bahwa ”pengalaman adalah guru yang paling baik”. Maka hal yang sama telah dikemukakan oleh Confusius beberapa abad lalu  ”what i hear, i forget, what I hear and see, I remember a little, what I hear, see and ask questions about or discus wuth some one else, I begin to understand, what I hear, see, discus, and I do, I acquire knowledge and skill, what I teach to another, I master”. Jika pernyataan Confusius tersebut dikembangkan secara sederhana, maka akan didapat suatu cara belajar berupa cara belajar dengan cara mendengar akan lupa, dengan cara mendengarkan dan melihat akan ingat sedikit, dengan cara mendengar, melihat dan mendiskusikan dengan siswa lain akan paham, dengan cara mendengar, melihat, diskusi dan melakukan akan memperoleh pengetahuan dan keterampilan, dan cara untuk menguasai pelajaran yang terbaik adalah dengan mengerjakan. Dengan mengalami materi belajar secara langsung.

Seperti halnya proses pelatihan  kontekstual yang menghubungkan dan melibatkan peserta dengan dunia nyata, model ini pun lebih mengedepankan model connented knowing (menghubungkan antara pengetahuan dengan dunia nyata), dengan demikian pelatihan  dianggap sebagai bagian integral dari sebuah kehidupan.

Konsep Model Experiential Learning
Experiental learning theory (ELT), yang kemudian menjadi dasar model pelatihan  experiential learning , dikembangkan oleh David Kolb sekitar awal 1980-an. Model ini menekankan pada sebuah model pelatihan  yang holiostik. Dalam experiential learning, pengalaman mempunyai peran sentral. Penekanan inilah yang membedakan ELT dari teori-teori belajar lainnya. Istilah “experientrial” di sini untuk membedakan anatara teori belajar kognitif yang cenderung menekankan kognisi lebih daripada afektif. Dan teori belajar behavior yang menghilangkan peran pengalaman subjektif dalam proses belajar (Kolb dalam Baharudin dan Esa, 2007: 165).

Model Experiential Learning adalah suatu model proses belajar mengajar yang mengaktifkan peserta untuk membangun pengetahuan dan keterampilan melalui pengalamannya secara langsung. Dalam hal ini, Experiential Learning menggunakan pengalaman sebagai katalisator untuk menolong pembelajar mengembangkan kapasitas dan kemampuannya dalam proses pelatihan .

Experiential learning dapat didefinisikan sebagai tindakan untuk mencapai sesuatu berdasarkan pengalaman yang secara terus menerus mengalami perubahan guna meningkatkan keefektifan dari hasil belajar itu sendiri.

Experiential learning menekankan pada keinginan kuat dari dalam diri untuk berhasil. Motivasi ini didasarkan pula pada tujuan yang ingin dicapai. Keinginan untuk berhasil tersebut dapat meningkatakan tanggung jawab  terhadap perilaku .

Experiential learning adalah suatu proses dimana kita mengkonstuksi atau menyusun pengetahuan keterampilan dan nilai dari pengalaman langsung.  Prosedur pelatihan  dalam experiential learning terdiri dari 4 tahapan, yaitu; 1) tahapan pengalaman nyata, 2) tahap observasi refleksi, 3) tahap konseptualisasi, dan 4) tahap implementasi.

Proses belajar dimulai dari pengalaman konkret yang dialami seseorang. Pengalaman tersebut kemudian direfleksikan secara individu. Dalam proses refleksi seseorang akan berusaha memahami apa yang terjadi atau apa yang dialaminya. Refleksi ini menjadi dasar konseptualisasi atau proses pemahaman prinsip-prinsip  yang mendasari pengalaman yang dialami serta prakiraan kemungkinan aplikasinya dalam situasi atau konteks yang lain (baru). Proses implementasi merupakan situasi atau konteks yang memungkinkan penerapan konsep yang sudah dikuasai.

Kemungkinan belajar melalui pengalaman-pengalaman nyata kemudian direfleksikan dengan mengkaji ulang apa yang telah dilakukannya tersebut. Pengalaman yang telah direfleksikan kemudian diatur kembali sehingga membentuk pengertian-pengertian baru atau konsep-konsep abstrak yang akan menjadi petunjuk bagi terciptanya pengalaman atau perilaku-perilaku baru. Proses pengalaman dan refleksi dikategorikan sebagai proses penemuan (finding out), sedangkan proses konseptualisasi dan implementasi dikategorikan dalam proses penerapan (taking action).

Kamis, 17 Oktober 2013

Kecerdasan ekologi


www.highlandindonesia.co.id"Harmonisasi alam menjadi prioritas tanpa harus mengurangi daya dukung dan daya lenting lingkungan terhadap hak dasar tiap makhluk untuk hidup, berkembang dan melakukan explorasi hidup"

Hubungan timbal balik antara manusia dengan makhluk hidup lainnya dan unsur tak hidup telah menyebabkan manusia dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, namun aktivitas yang dilakukan manusia terhadap lingkungan menyebabkan pula permasalahan lingkungan hidup. Permasalahan tersebut pada hakikatnya merupakan permasalahan ekologi.
Ekologi adalah hubungan mahluk hidup, khususnya manusia terhadap lingkungan hidupnya, ilmu tentang hubungan timbal balik antara mahluk hidup dengan lingkungan hidupnya disebut ekologi, Istilah ekologi pertama kali diperkenalkan oleh Enerst Haeckel, seorang ahli biologi kebangsaan Jerman, ekologi berasal dari bahasa Yunani yaitu Oikos yang berarti rumah dan logos yang berarti ilmu atau telaah, karena itu ekologi berarti ilmu tentang rumah atau tempat tinggal makhluk hidup, dengan demikian ekologi biasa artikan sebagai ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara mahluk hidup dengan lingkungannya, dalam ekologi transaksi yang di gunakan adalah Arus materi, energi, dan informasi dalam suatu komunitas atau beberapa komunitas materi, energi, dan informasi.

Dalam konsep ekologi “ Pengelolaan lingkungan hidup bersifat Antroposentris “ artinya perhatian utama dihubungkan dengan kepentingan manusia, Kelangsungan hidup suatu jenis tumbuhan atau hewan selalu dikaitkan dengan peranan tumbuhan atau hewan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia baik material seperti bahan makanan dan non-material seperti keindahan dan nilai ilmiah, dengan demikian kelangsungan hidup manusia dalam lingkungan hidup sangat ditentukan oleh tumbuhan, hewan, dan unsur tak hidup.

Menurut Urie Bronfrenbrenner teori ecologi adalah suatu pandangan sosiokultural tentang perkembangan lima sistem lingkungan mulai dari masukan interaksi langsung dengan agen-agen sosial (social agents) hingga masukan kebudayaan yang berbasis luas, kelima pembagian tersebut adalah : 1. Mikrosistem merupakan setting dimana individu hidup; 2. Lingkungan mesosistem yang terdiri dari beberapa Mikrosistem; 3. Eksosistem; 4. Makrosistem meliputi kebudayaan dimana individu hidup. ( Kebudayaan mengacu pada pola perilaku dan keyakinan ) 5. Kronosistem meliputi peristiwa-peristiwa lingkungan dan transisi sepanjang rangkaian kehidupan dan keadaan-keadaan sosiohistoris.

Karena perhatian utama dalam tingkatan organisasi mahluk hidup dan lingkungan adalah “ Manusia ”, maka manusia harus memiliki kecerdasan dalam pengelolaan nya, material dan imaterial sebagai factor utama pendukung kelangsungan hidup manusia selayaknya dikelola dengan memperhatikan daya dukung dan daya lenting lingkungan sehingga terjadinya harmonisasi element hidup.

Seorang peneliti dari universitas Harvard “ Howard Gardner “, membagi kecerdasan dalam delapan macam kecerdasan atau inteligensia diantaranya adalah Kecerdasan Naturalis (Naturalist Intelligence), kecerdasan naturalis adalah suatu kekuatan kecerdasan dengan pemahaman sederhana tentang lingkungan dan memahami hakikat alam.

Lain hal hanya dengan Kecerdasan ekologis ( dalam hal ini Kecerdasan dipahami sebagai suatu kemampuan untuk memahami informasi yang membentuk pengetahuan, kepekaan dan kesadaran ) dimana kepekaan dan perilaku manusia terhadap hakikat alam yang di tuangkan pada management hubungan manusia dan aktivitas social hidup nya berdasar pada nilai-nilai harmonisasi alam itu sendiri. Harmonisasi alam menjadi prioritas tanpa harus mengurangi daya dukung dan daya lenting lingkungan terhadap hak dasar tiap makhluk untuk hidup, berkembang dan melakukan explorasi hidup.

Dalam hal ini, manusia yang berada pada tingkatan organisasi mahluk yang tertinggi yang harus memiliki kekuatan karakter sebagai individu dan memiliki kepribadian yang luwes dan adaptif sebagai mahluk sosial terhadap aktivitas social hidupnya, alam yang menyediakan tempat belajar dan materi pembelajaran harus dapat menumbuh kembangkan pemahaman akan kesadaran seorang individu untuk berperan aktif dalam aktivitas social hidupnya, yang pada akhirnya nilai – nilai harmonisasi tercipta sacara utuh tanpa mengurangi potensi pemenuhan kebutuhan untuk mempertahankan fungsi lingkungan dan daya dukung nya.

Tahukah anda tentang outbound........?


www.highlandindonesia.co.id | tahukah and tentang outboundOutbound berasal dari kata outward bound, yaitu dari kata ajakan “lets go to outward” yang sekarang menjadi sebuah yayasan di Inggris yang bergerak dalam pendidikan di luar ruangan (outdoor education) dengan nama Outward Bound International. Outward bound di Indonesia lebih dikenal dengan outbound manajemen trainning (OMT) yang memadukan ilmu manajemen sebagai metodepelatihan dengan kegiatan di alam terbuka.
Outbound atau outbound manajemen training adalah suatu program pelatihan manajemen di alam terbuka yang berdasarkan pada prinsip experiental learning yang disajikan dalam bentuk permainan, simulasi, diskusi dan petualangan sebagai media penyampaian materi (Ancok, 2002:35). Penerapan ilmu manajemen berkenaan dengan bagaimana mengatur diri sendiri, dan kelompok orang lain yang didalamnya disajikan berbagai kegiatan permainan untuk membentuk kepercayaan diri (self confidence), membentuk kelompok (team building), jiwa kepemimpinan (leadership) dan sebagainya.

Outbound adalah sebuah metode pembelajaran untuk mencari pengalaman dengan menggunakan alam terbuka (outdoor education) sebagai medianya (Hahn, 2004:1). Selain itu, outbound memegang peranan penting bagi orang yang tidak pernah menyerah, yang mencoba dan mencoba lagi, dan yang mencoba terus meraih untuk batas waktu yang tidak diketahui (Kusumowidagdo, 2002:1). Outbound adalah suatu proses pendidikan yang mengabdi pada prinsip mengembangkan keyakinan diri individu, perhatian pada orang lain, dan kesadaran diri dalam rencana yang luas ketika dihadapkan dengan tantangan, berbagi pengalaman bersama yang menyertakan petualangan dan jasa layanan (Suhendra, 2002:9). Dari beberapa pendapat tersebut, outbound mempunyai tujuan luas diantaranya adalah membangun manusia yang memiliki ketahanan mental yang kokoh, pantang menyerah, selalu ingin terus mencoba, menghargai orang lain dan sebagainya

Dalam filosofi outbound seperti dikatakan Karlisch (1979:9) bahwa: “untuk menghasilkan orang-orang muda yang mampu mempengaruhi bahwa apa yang mereka kerjakan adalah benar, di samping kesukaran, bahaya, keraguraguan, olok-olok, atau keadaan emosi”. Dengan demikian, outbound merupakan upaya untuk membentuk generasi muda agar setiap tindakan yang mereka lakukan dalam kondisi apapun selalu benar. Dalam keadaan bahaya, kesulitan, ragu-ragu, diolok-olok, atau dalam keadaan emosi mereka tidak stabil, tetapi mereka dituntut agar selalu bertindak dan mengambil keputusan dengan benar. (Komarudin, S.Pd. M.Pd.)

Rabu, 16 Oktober 2013

Outbound dan Percaya Diri


www.highlandindonesia.co.id | outbound dan percaya diriAktivitas outbound, disadari atau tidak, dapat membina dan meningkatkan rasa percaya diri (self confidence) bagi yang melakukannya (Hamidi, 2007:45). Selain itu, outbound sebagai metode terapi yang dilakukan di alam bebas (diluar ruangan) yang didalamnya dilakukan permainan-permainan olahraga yang bersifat menantang, dan membutuhkan semangat juang tinggi, rasa percaya diri dan membutuhkan pemikiran yang tidak sedikit tetapi sangat menyenangkan.
Peserta outbound dilatih untuk lebih berani mengambil segala kemungkinan dengan memperhitungkan resiko tertinggi yang akan dihadapinya. Peserta dilatih untuk melakukan sesuatu dengan penuh perhitungan dan memikirkan resiko-resiko yang dihadapi. Peserta dalam kegiatan tersebut, akan merasa cemas ketika melihat tali yang membentang diantara dua pohon yang tinggi, lingkungan yang asing dan sebagainya. Namun peserta harus mencoba untuk melakukan dan memecahkan masalah yang dihadapinya. Peserta harus memiliki prinsip bahwa dia juga bisa melakukannya sebagaimana orang lain yang bisa melakukannya. Selain itu, peserta outbound harus berusaha melawan kekhawatiran dan perasaan takut yang dihadapi dan dirasakannya.

Ketika seseorang terus menghindar dan menutup diri dari permasalahan yang menyebabkan dirinya takut dan cemas, maka perasaan kurang percaya diri yang dirasakan itu akan menghambat peserta dan tidak berani menghadapi tantangan. Salah satu gejala psikis yang timbul akibat kecemasan adalah hilangnya rasa percaya terhadap kemampuan diri yang dimilikinya. Salah satu tujuan dari kegiatan outbound, adalah membangun rasa percaya diri. Jeffers (2004:30) mengatakan: “membina kepercayaan dalam diri adalah mengusir perasaan cemas dan teruskan pekerjaan yang membuat anda cemas”. Bagaimanapun juga dalam outbound membutuhkan percaya diri dan keberanian yang penuh dan tantangan yang harus dihadapi. Berani mengambil resiko dengan penuh perhitungan merupakan salah satu yang dipelajari dalam kegiatan outbound. Jajat (2006:32) mengatakan bahwa: “Orang yang memiliki kepercayaan diri tinggi, berjiwa pemimpin, pencemas, dan trauma akan kejadian di masa lampau, orang yang tidak bisa mengendalikan emosinya dan sebagainya biasanya akan terlihat ketika dihadapkan dalam kegiatan outbound. Kegiatan outbound akan mencoba mengurangi ketakutan dan kekhawatiran yang timbul akibat dari lingkungan dan rekan-rekan yang baru saja dikenalnya.

Perasaan kurang percaya diri, cemas, takut, khawatir dan lain sebagainya harus diatasi, orang yang takut ketinggian, dalam kegiatan outbound dituntut untuk berani mengalahkan perasaan tersebut. Orang yang takut serta khawatir, maka dirinya tidak akan mampu melakukan sesuatu yang mungkin masih baru. Dengan demikian, dalam kegiatan outbound orang dituntut untuk mencoba melakukan dan menghilangkan perasaan takut yang dialaminya. Beberapa pendapat mengatakan bahwa belajar di alam terbuka lebih efektif, karena akan merasakan langsung apa yang dipelajarinya. Alam memberikan pengalaman nyata dan dapat dirasakan secara langsung. Oleh sebab itu, outbound diharapkan dapat mengukur langsung kepercayaan diri seseorang, karena dalam outbound orang dituntut untuk meningkatkan kepercayaan dirinya untuk melakukan berbagai tugas yang harus dilakukannya. (Komarudin, S.Pd. M.Pd.)

Selasa, 15 Oktober 2013

Outbound : sebuah metode


www.highlandindonesia.co.id | sebuah metode outboundPercaya diri (self confidence) merupakan modal utama seseorang untuk mencapai sukses. Orang yang mempunyai kepercayaan pada diri sendiri berarti orang tersebut sanggup, mampu, dan meyakini dirinya bahwa ia dapat mencapai prestasi yang diinginkannya. Percaya diri merupakan modal untuk dapat maju, karena pencapaian prestasi maksimal dan pemecahan rekor atlet harus dimulai dengan percaya bahwa ia dapat dan sanggup melampaui prestasi yang pernah dicapainya (Gunarsa, 1989:51). Perasaan kurang percaya diri merupakan tumpuan yang lemah untuk mencapai prestasi maksimal, kurang percaya diri berarti meragukan kemampuan diri, dan merupakan bibit ketegangan dalam menghadapi pertandingan atau menghadapi lawan yang seimbang, dan ketegangan tersebut jelas merupakan bibit kekalahan dalam suatu pertandingan.

Dalam kenyataannya tidak semua orang atau atlet memiliki percaya diri, terkadang minder dengan apa yang dimilikinya. Padahal untuk melakukan kegiatan termasuk kegiatan yang menantang harus mempunyai percaya diri supaya tujuan yang diharapkan dapat terwujud. Tingkat percaya diri yang tinggi sebenarnya hanya merujuk pada adanya beberapa aspek dari kehidupan individu, di mana ia merasa memiliki kompetensi, mampu dan percaya bahwa ia bisa karena didukung oleh pengalaman, potensi aktual, prestasi serta harapan yang realistik terhadap dirinya sendiri. 

Untuk menumbuhkan percaya diri, harus dimulai dari dalam dirinya sendiri, hal ini sangat penting untuk mengatasi rasa kurang percaya diri yang ada dalam dirinya. Rasa percaya diri yang ada dalam diri seseorang atau atlet jangan sampai berlebihan, karena tidak akan menggambarkan kondisi kejiwaan yang sehat. Keadaan kondisi kejiwaan yang sehat selalu berorientasi pada kemampuan yang sebenarnya. 

Outbound adalah sebuah metode pelatihan, terapi atau pembelajaran yang menggunakan alam sebagai medianya. Outbound merupakan program kegiatan dengan metode bermain sambil belajar yang didalamnya terdapat unsur olahraga. Dalam pelatihan outbond selalu berdasarkan pada prinsip “experiental learning” yang disajikan dalam bentuk permainan, simulasi, diskusi, dan petualangan sebagai media penyampaian materi. Dalam aktivitas tersebut, peserta langsung terlibat pada aktivitas belajar sambil bekerja dan segera mendapat umpan balik tentang dampak dari kegiatan yang dilakukannya. Salah satu tujuan dari outbound adalah untuk meningkatkan kinerja seseorang khususnya yang berkaitan dengan mental dan perilaku seperti meningkatkan rasa percaya diri, berkomunikasi, berkerja sama, mengembangkan kretifitas, dan kemampuan mengatasi tekanan dan beragam kesulitan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Rasa percaya diri dapat membuat atlet mampu membebaskan dirinya dari tekanantekanan (stres) yang dihadapi dalam aktifitas olahraga (Tandio, 1997:47). 

Metode untuk mengatasi stress yang dialami seseorang sangat beranekaragam, seperti relaksasi, terapi musik, istirahat yang cukup, memelihara hubunganyang sehat, rekreasi dan berolahraga diantaranya adalah outbound (Yates, 1979:5). Dengan demikian, olahraga merupakan salah satu bentuk aktivitas yang bisa melepas rasa stres yang kerapkali dialami dalam kehidupan sehari-hari, oleh sebab itu olahraga akan memberikan suasana rileks pada tubuh yang melakukan aktivitas tersebut, ( Komarudin, S.Pd. M.Pd. )

Selasa, 27 Agustus 2013

Pendidikan melalui outbound


outbound-outing- camping-lokasi outbound-highland camp-youth outbound-makan
Outbound pramuka
Outbound merupakan salah satu metode pembelajaran modern yang memanfaatkan keunggulan alam. karena alam bisa menjadi media pembelajaran yang efektif, salah satu contohnya yaitu pemanfaatan alam seperti tadabbur alam. Para peserta yang mengikuti outbound tidak hanya dihadapkan pada tantangan inteligensia, tetapi juga fisik dan mental. dan ini akan terus terlatih menjadi sebuah pengalaman yang membekali dirinya dalam menghadapi tantangan yang lebih nyata dalam persaingan di kehidupan sosial masyarakat.
Banyak pakar psikologi dan pendidikan yang menyatakan bahwa outbound sebagai sebuah metode pembelajaran sangat efektif dalam memenuhi kebutuhan/tuntutan terhadap hasil suatu pelatihan. Melalui outbound, akan terbangun pemahaman terhadap suatu konsep dan perilaku. Itulah alasannya mengapa dalam Quantum Learning, kegiatan outbound menjadi metode andalan di dalam kegiatan belajar dan memang telah terbukti berhasil.

Sisi menarik dari metode pembelajaran outbound adalah permainan sebagai bentuk penyampaiannya. Dalam permainan skill, individu tidak hanya ditantang berpikir cerdas namun juga memiliki kepekaan sosial. Dalam outbound peserta akan lebih banyak dituntut mengembangkan kemampuan ESQ (emotional and spiritual quotient), disamping IQ (intelligent quotient). Metode outbound training memungkinkan peserta dalam aktivitasnya melakukan sentuhan-sentuhan fisik dengan latar alam yang terbuka sehingga diharapkan peserta didik mampu menghayati kebesaran dan ke-Agungan Allah SWT. melalui ciptaanya yaitu alam. Sehingga penanaman nilai – nilai agama Islam lebih efektif dibandingkan pembelajaran agama yang biasa hanya dilakukan di dalam ruang dan terpacu pada penyampaian pendidik saja.

Konsep baru yang ditawarkan dalam pelatihan di alam terbuka saat ini adalah Islamic Experiential Learning. Yaitu pembelajaran agama Islam melalui outbound dengan memanfaatkan alam sebagai media pembelajaran. Aktivitas yang terdapat pada kegiatan outbound menantang peserta untuk mengoptimalkan empat potensi yang dimiliki yaitu: akal, fisik, emosional dan yang terpenting adalah potensi spiritual. Kegiatan - kegiatan yang dilakukan sangat sederhana namun, dibalut dalam permainan menyenangkan sehingga peserta didik akan mendapat pemahaman sangat dalam tentang keislaman.

Dalam kegiatan outbound ini peserta diajak untuk menyelami makna dari nilai – nilai keislaman yang luhur melalui berbagai aktivitas yang interaktif, menyenangkan, sarat hikmah dan menyentuh qalbu. Nilai-nilai Keislaman adalah nilai-nilai yang memiliki kebaikan di dunia dan akhirat. Nilai-nilai yang memiliki cita sosial yaitu nilai keadilan, perdamaian, kejujuran, tanggung jawab dan membawa kemaslahatan di dunia dan akhirat.8 Nilai – nilai keislaman dalam kegiatan outbound salah satunya adalah akidah Islam. (WARSIYAH)

Kamis, 22 Agustus 2013

Jenis Permainan dalam Outbound

Outbound dapat dibagi ke dalam beberapa permainan, setiap jenis permainan tersebut mempunyai makna dan filosofis tersendiri. Jenis permainan tersebut seperti terlihat pada Tabel 1.1.





Tabel 1.1
Jenis Permainan dalam Outbound
NO TAHAP
KEGIATAN
UNIT KEGIATAN
(GAMES)
TEACHING POINTS
1 The ropes course/use Two line bridge
Commando crawl
Flying fox
Elpis walk
Kitten crawl
Post man
  • Melatih diri menghadapi masalah.
  • Melatih diri menghadapi resiko dan penuh tantangan .
  • Percaya diri.
  • Kegigihan menyelesaikan tugas beragam dan banyak pilihan.
  • Melatih bekerja sama dan diskusi.
  • Melatih keberanian untuk mengeluarkan pendapat.
  • Keterlibatan dan rasa ingin tahu.
2 Group activities The all aboard
Human knot
Punctured drum
Big foot
Pithon pentaton
Go for it
  • Melatih diri memecahkan masalah.
  • Mengkomunikasikan hasil-hasil.
  • Membuat penyelesaian menjadi menarik.
  • Keterpaduan mandiri, kombinasi, kepekaan terhadap masalah.
  • Melatih diri menyelesaikan pekerjaan rumit.
  • Diskusi kelompok.
  • Melatih diri mengeluarkan pendapat.
  • Melatih keberanian menghadapi resiko dan penuh tantangan
3 Chellenggers Turun tebing/dinding
Panjat tebing/dinding
  • Melatih diri memecahkan masalah dan banyak pilihan.
  • Melatih diri menjajaki pekerjaan rumit.
  • Kepercayaan diri.
  • Keberanian memunculkan ide-ide baru.
  • Keterpaduan mandiri, kombinasi, kepekaan terhadap masalah dan tantangan.
4 Olahraga tradisional Panjat pinang
Bakiak
Egrang
Jalan tempurung
  • Bebas bereksperimen.
  • Mempertimbangkan banyak gagasan, kemungkinan-kemungkinan.
  • Mengkomunikasikan hasil-hasil.
  • Keterlibatan yang tinggi dalam masalah.
  • Kesempatan menciptakan dan berkarya
5 Wisata air Arung jeram
Canoe
  • Melatih keberanian menghadapi resiko dan penuh tantangan.
  • Menjajaki pekerjaan rumit.
  • Kepercayaan diri.
6 Relaksasi Relaksasi
  • Memberikan rasa nyaman .
  • Menghilangkan kecemasan.
  • Menghilangkan rasa jenuh dan stress.
Sumber : Robert A Baron, (1995:505).

Senin, 12 Agustus 2013

Outbound dan Stres


Outbound dan stressStres berasal dari bahasa latin (strictus) berati ketat atau sempit, dan kata kerja (stringere) berarti mengetatkan (tighten). Menurut Aswi (2008:15) stress berasal dari kata Perancis (retrecir) berarti kesempitan, suatu penyempitan, atau faktor pembatasan kekuatan. Selye (1976:1) menggambarkan stres sebagai desakan atau tekanan yang dihadapi oleh individu berikut peristiwa yang berlaku padanya. Dalam tekanan ini seseorang perlu menyeimbangkan tuntutan perubahan dengan kemampuan yang ada pada dirinya. Kegagalan untuk mencapai keseimbangan akan menyebabkan stres.
Gregson (2007:29) mengatakan stress diartikan sebagai status yang dialami ketika muncul ketidakcocokan antara tuntutan dengan kemampuan yang kita miliki. Maksud pernyataan tersebut stress muncul ketika ada tuntutan terhadap pribadi seseorang yang membebani atau melampui batas sumber daya yang diperlukan atau dimiliki dalam menyesuaikan dirinya.
Stres merupakan sesuatu yang wajar terjadi pada diri individu, dan memberikan dampak kepada aspek fisik dan psikis. Kondisi lingkungan yang baru dihadapi cenderung menyebabkan stress ketika kontrol emosi kurang baik dalam memahami lingkungan tersebut. Apabila emosi terkontrol dengan baik, stress dijadikan sebagai kesiapan psikologis seseorang untuk melakukan sesuatu.

Dalam kehidupan sehari-hari orang banyak melakukan aktivitas di dalam ruangan dengan suasana penat yang menimbulkan kebosanan dan perasaan jenuh. Untuk mengatasi gejala tersebut, terapi yang bisa dilakukan diantaranya melakukan kegiatan di alam terbuka/alam bebas. Yates (1979:1) mengatakan: “salah satu cara yang dapat mengurangi stres yaitu berusaha mempertahankan aktivitas yang kreatif di luar … misalnya berolahraga atau berekreasi”. Olahraga merupakan salah satu bentuk aktivitas yang bisa melepaskan stres. Dengan berolah raga, ketegangan yang dialami seseorang diganti dengan suasana rileks. Aktivitasnya seperti fitness centre, berenang, bersepeda, outbound dan sebagainya. Dalam outbound peserta diajak untuk mempelajari perubahan yang terjadi yang berkenaan dengan alam beserta isinya.

Aktifitas di alam terbuka sekurang-kurangnya 24 jam merupakan media efektif untuk mengenal pribadi seseorang secara lebih mendalam. Karena pada saat tersebut, karakter dan tabiat seseorang teridentifikasi secara jelas. Dalam aktifitas tersebut, individu menjadi diriya sendiri, mereka tertantang dengan permainan yang membutuhkan adrenalin cukup tinggi. Ketegangan yang timbul dalam aktivitas tersebut membuat jiwa seseorang lebih kuat, dan perasaanya lebih rileks. Ancok (2003:3) menegaskan: “metode pelatihan di alam terbuka dapatdigunakan untuk kepentingan terapi kejiwaan” Salah satu contoh bentuk permainan yang dapat mengurangi stres adalah ice breaking. Ice breaking adalah berbagai bentuk permainan yang dilakukan sebagai pemanasan sebelum melakukan kegiatan outbound, dalam kegiatan ini bentuk pemanasan mengarah pada upaya memecahkan rasa beku dalam suatu kelompok. Ice breaking bertujuan menimbulkan jiwa sportif, kerjasama dalam kelompok, rasa tanggung jawab dan menumbuhkan jiwa kepemimpinan. Selain itu, menghilangkan tekanan-tekanan yang ditimbulkan akibat rutinitas dalam kehidupan sehari-hari seperti rasa lelah, bosan, jenuh, penat dan stres.( Komarudin, S.Pd. M.Pd. )

Selasa, 30 Juli 2013

Outbound seru....!!!

www.highlandindonesia.co.id | games pipa bocorKegiatan outbound sekarang ini sudah menjadi kegiatan yang paling diminati untuk mengisi liburan atau sekedar untuk melepas penat. Outbound adalah sebuah pelatihan pengembangan sumber daya manusia atau organisasi yang dilaksanakan diluar ruangan (outdoor) atau alam bebas. Tempat yang sering digunakan yaitu di daerah pegunungan atau perbukitan. Outbound bisa berbentuk permaianan individu bisa juga berbentuk permaianan kelompok.

Outbound dapat dinikmati dari semua kalangan mulai dari anak-anak, remaja, bahkan kalangan dewasa. Prinsip outbound sebenarnya adalah bermain di ruang terbuka inilah sebabanya mengapa outbound dianggap sebagai permainan semua kalangan karena tidak dipungkiri bahwa semua orang mulai dari anak kecil hingga dewasa suka bermain.

Ternyata Outbound bukan hanya sekedar bermain saja. Banyak manfaat yang bisa di dapatkan dari permainan-permainan outbound. Wahana outbound yang di desain sedemikian rupa terbukti bisa melatih keberanian dan kemandirian kita, memacu berpikir kratif, dan melatih psikomotorik kita agar dapat lebih cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar.

Manfaat lain yang dapat kita peroleh dari kegiatan outbound antara lain :
  • Merefresh pikiran
  • Melatih kemampuan berkomunikasi yang efektif
  • Melatih kontrol emosi didalam diri
  • Melatih kebersamaan
  • Melatih kekompakan
  • Melatih kepemimpinan
  • Melatih membangun kepercayaan
  • Melatih kemampuan bekerja secara team (teamwork)
  • Melatih kemampuan untuk menyusun strategi tim.
  • Melatih keberanian dan kepercayaan diri.
  • Menumbuhkan motivasi di dalam diri.
Melihat banyak manfaat yang bisa kita dapatkan dari kegiatan ini, outbound bisa dijadikan sebagai salah satu alternatif pilihan untuk mengisi waktu liburan yang sebentar lagi akan tiba. (Eva Afriyani Hanif)

Outbound ; sebuah kisah para pelaut yang tangguh


www.highlandindonesia.co.id | kisah para pelaut tangguhOutward Bound yang dikenal belakangan ini dengan outbound adalah ide pendidikan inovatif yang dikreasikan oleh Kurt Hahn yang telah bertahan dan berkembang selama lebih dari enam puluh tahun. Fakta Ini dapat dikatakan luar biasa karena begitu banyak metode pendidikan yang muncul dan tenggelam selama periode ini.


Konsep Outbound sangat mudah beradaptasi dan dapat diterapkan pada dunia edukasi secara masal dan pemikiran  filosofi  semacam outbound ini adalah abadi dan memiliki daya tarik universal,  kedua faktor tersebutlah yang membuat metode ini menjadi populer dan terus berkembang.
Out bound berasal dari kata out of boundaries, artinya keluar dari batas. Merupakan istilah di bidang kelautan, yang menandakan saat-saat sebuah kapal keluar dari dermaga, melewati batas perairan.

Kurt Han | pencetus outboundPada tahun 1800-an, seorang pelaut Inggris bernama Kurt Han mengamati fenomena yang terjadi pada pelaut di kapalnya, yaitu bahwa pelaut-pelaut muda yang masih kuat secara fisik, ternyata kurang tangguh dalam menghadapi kerasnya kehidupan pelayaran. Justru pelaut-pelaut yang sudah lebih tua, yang secara fisik sudah mengalami penurunan, malah mampu survive dan mampu memecahkan berbagai masalah kompleks yang timbul. Hal ini bukan semata karena pengalamannya lebih banyak, tetapi lebih karena keterampilan-keterampilan personal seperti daya juang, kemampuan kepemimpinan, problem solving, dan lain-lain. Hal ini menarik perhatian si pelaut Inggris ini, dan kemudian melakukan pelatihan bagi setiap anak buahnya. Pelatihan dilakukan selama 30 hari di atas kapalnya. Dan terbukti, kegiatan ini mampu mengembangkan kemampuan mereka dalam menghadapi masalah-masalah yang terjadi.
Kurt Hahn telah meninggal tetapi pengaruhnya dalam Outward Bound dan inisiatif pendidikan lainnya masih hidup hingga saat ini. Beliau lebih menekankan tercapainya tujuan daripada melatih fokus, dengan menggunakan cara yg sangat fleksibel, beragam dan sangat adaptatif. Begitu pula dengan metode Outbound Training, dengan programnya yang boleh dikatakan “tidak lazim”


Aplikasi outbound
Saat ini pelatihan outbound banyak digunakan untuk banyak hal. Di perusahaan, tujuannya antara lain untuk orientasi dan pemetaaan, pengukuran atau assessment dan bahkan pelatihan serta pengembangan. Dari kegiatan di luar ruangan ini akan nampak perilaku-perilaku asli yang kadang tidak muncul dalam kehidupan keseharian kita. Harapannya ketika kita mampu memecahkan masalah dalam pelatihan outbound, adalah semangat tersebut dapat membantu kita mengembangkan diri menghadapi hal lain yang lebih kompleks. (Artikel Indonesia)

Rabu, 24 Juli 2013

Asyiknya bermain paintball tradisional


www.highlandindonesia.co.id | Painball versus belethokan"Jauh sebelum paintball dikenal luas oleh masyarakat Indonesia. Kami anak-anak di desa sudah mengenal permainan “paintball” ini secara tradisional namanya blethokan". 
Tembak-menembak merupakan salah satu permainan favorit anak laki-laki. Pistol-pistolan seakan merupakan mainan wajib bagi anak laki-laki selain mobil-mobilan entah membeli dari pedagang mainan atau membuat sendiri. Bagi anak kota yang hidup berkecukupan tentu mudah mendapatkan mainan-mainan tersebut. Namun bagi anak-anak desa yang hidupnya pas-pasan seperti saya, harus berputar otak dulu untuk menyalurkan imajinasi yang meluap-luap.
Dengan segala keterbatasan kami membuat sendiri mainan dengan bahan yang melimpah di sekitar rumah. Salah satu mainan yang paling saya ingat adalah pistol-pistolan dari bambu yang diberi nama “Bedhil-Bedhilan” meskipun bentuknya lebih mirip pompa sepeda daripada pistol. Di daerah lain mainan ini dikenal dengan berbagai nama antara lain Sethokan, slethokan, sontlop, sentlop, sentolop, ceplokan, jedlokan, plethokan, lontop, ondlop, jedhul dll.

 Cara membuatnya cukup mudah. Bahan yang digunakan adalah bambu dengan panjang sekitar 30 cm, diameter maksimal 1,5 cm karena kalau terlalu besar nanti akan kesulitan mencari peluru yang cocok. Biasanya bambu yang dipilih merupakan bambu apus yang masih muda. Bisa juga menggunakan bambu wuluh yang biasa digunakan untuk membuat seruling namun jenis bambu ini mudah pecah karena terlalu tipis. Yang kedua adalah bilah bambu yang diraut menjadi stik yang digunakan sebagai pendorong peluru. Jika di daerah lain bagian gagangnya disambung dengan bambu bulat, di desaku gagangnya berbentuk kotak pipih karena merupakan satu kesatuan dengan stiknya. Yang perlu diperhatikan adalah panjang stik pendorong harus lebih pendek dari panjang pipa bambunya. Hal ini untuk memberi ruang bagi peluru pertama agar tidak keluar.

Setelah alatnya selesai dibuat, saatnya mengisi peluru. Peluru yang digunakan dapat bermacam-macam. Biasanya anak-anak menggunakan kembang jambu air, ada juga yang memakai kembang lamtoro (petai cina), buah lempeni atau menggunakan kertas koran yang direndam dengan air. Caranya pilih peluru yang lebih besar dari lobang pipa agar tidak ada udara yang bocor keluar. Agar dapat masuk, peluru perlu dipukul-pukul dengan gagang stik. Setelah itu di dorong masuk menggunakan stik ke ujung pipa. Peluru kedua dimasukkan dengan cara yang sama. Tekanan udara yang ada di dalam pipa menjadi besar. Hal inilah yang membuat peluru pertama dapat melesat dengan cepat.

Cara bermain bedhil-bedhilan (penampang) 
Setelah mengumpulkan peluru, saatnya berperang. “Medan pertempuran” yang kami gunakan adalah kebun bambu di sebelah rumah saya. “Pertempuran” berlangsung seru layaknya Film perang amerika abad ke-16. Bedanya kalau di film-film itu memakai stik panjang untuk memasukkan peluru, kalau ini dengan memukul-mukulkan gagang stik ke peluru agar bisa masuk. Namanya juga perang-perangan, tak ada aturan spesifik. Tak jarang ketika sedang mengisi peluru kita kena tembak.

 Di tengah “pertempuran” stok peluru kami habis. Mau cari lagi malas karena letak pohon jambu cukup jauh. Akhirnya kami memakai temulawak yang banyak tumbuh liar di sekitar kebun bambu. “Pertempuran” kembali berlangsung dan kali ini lebih seru karena setiap kena tembak akan meninggalkan bercak berwarna kuning. Sesampainya di rumah saya dimarahi Emak karena baju yang saya pakai penuh bercak-bercak kuning. Bercak-bercak tersebut baru bisa hilang setelah beberapa kali dicuci. Baju tersebut kemudian jadi baju wajib saat bermain bedhil-bedhilan karena kalau pakai baju lain bisa-bisa dijewer Emak.

Kini permainan ini sudah jarang dilakukan oleh anak-anak di desa saya. Apalagi kebun bambu telah beralih fungsi menjadi ladang pertanian dan temulawak yang dulu tumbuh liar sudah habis dipanen pemiliknya. Alangkah baiknya jika suatu saat ada paket wisata yang menawarkan paintball ala tradisional ini. Tinggal menambahkan perlengkapan keamanan (misalnya baju dan kaca mata) dan juga peraturan permainan tentu akan menjadi hal yang menarik karena unik dan murah meriah. Apalagi jika permainan ini dipromosikan melalui situs Indonesia Travel tentu akan lebih mudah dikenal orang baik dari dalam maupun luar negeri. (sumber kompas)